Terinspirasi dari Bentuk Pohon Ethiopia, Intip Menara Air Permanen 'Warka Water'

Kamis, 21 Februari 2019 | 09:00

IDEAonline -Mengumpulkan air bisa menjadi salah satu aktivitas berbahaya.

Bahkan banyak orang butuh waktu berjam-jam agar bisa sampai ke sumber air terdekat.

Selain itu, bahaya lain seperti hewan buas dan kontaminasi limbah menjadi masalah lain yang harus dihadapi.

Baca Juga : Sekretaris hingga Jadi Selingkuhan Farhat Abbas, Intip Perubahan Drastis dari Regina, 'Gua Kira Anak SMA Mana'

Untuk itu, arsitek Arturo Vitturi memiliki ide mengumpulkan air bagi wilayah-wilayah terpencil.

Vitturi membuat wadah khusus untuk mengumpulkan air dari bambu dan material yang mudah ditemukan.

Struktur yang diberi nama Warka Water ini didesain untuk "memanen" air dari udara.

Baca Juga : Konsep Pernikahan di Kapal Pesiar Bocor, Yuanita Christiani Ceritakan Dirinya Sempat Menjomblo 6 Tahun Hingga Akhirnya Rajin Berdoa

Struktur Warka Water sendiri terinspirasi dari bentuk pohon Ethiopia yang bernama Warka.

Ide ini pertama kali muncul ketika Vitturi mengunjungi pedesaan yang terisolasi di wilayah timur laut Ethiopia.

Dia pun mulai membuat purwarupa alat yang dapat digunakan untuk mengumpulkan air.

Baca Juga : Asli Indonesia, Kaesang Pangarep Malah Ngaku Sebagai Anak Blasteran, Ternyata Ini Alasannya!

Penduduk yang tinggal di desa tersebut mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Bahkan wanita dan anak-anak harus berjalan jauh menuju ke sebuah kolam. Mirisnya, kolam tersebut biasanya sudah terkontaminasi dengan kotoran binatang maupun manusia.

Ide yang digagas Vitturi kemudian pertama kali dipamerkan dalam ajang Venice Biennale 2012.

Sejak saat itu, dia bersama dengan timnya mulai mengembangkan purwarupa menara pengumpul air dan fasilitas pendukung.

Baca Juga : Bosan Bikin Keributan dengan Gibran, Kaesang Pangarep Kini Lirik Bobby Nasution, Siap Saingi Bisnis Kopi Sang Mantu Presiden!

Purwarupa pertama diujicoba di pedesaan Ethiopia pada 2015 dan terus dimonitor hingga kini.

Rangka menara pengumpul air ala Vittori ini terbuat dari bambu yang dapat menopang material polyester di dalamnya.

Penggunaan bahan ini membuat konstruksi menara sangat mudah untuk dibuat di area pedalaman.

Alat ini dapat menampung uap air dari hujan, kabut, maupun embun yang terperangkap di permukaan menara yang dilapisi dengan jala.

Baca Juga : Tilik Masjid Terbesar di Jepang Milik Reino Barack yang Akan Jadi Venue Pernikahannya dengan Syahrini, Seluas 1477 M Persegi!

Air ini kemudian dialirkan ke sebuah wadah penampungan yang ditanam di bawah menara.

Menara air ini juga dilengkapi dengan kanopi pada bagian bawah menara berfungsi sebagai pencegah agar air yang telah dikumpulkan tidak menguap. Warka Water didesain agar dapat digunakan serta dioperasikan oleh warga setempat.

Menara ini bukan hanya dirancang untuk memberikan persediaan air kepada warga, namun juga bisa dimanfaatkan sebagai ruang perkumpulan di mana penduduk dapat memanfaatkan ruang di bawah kanopi menara.

Baca Juga : Sempat Jadi Seorang Model, Bebi Silvana Juga Pengusaha Tajir Melintir, Intip Toko Pakaian Miliknya!

Biaya yang dibutuhkan untuk membangun menara ini sekitar 500 hingga 1.000 dollar AS atau kurang dari seperempat biaya toilet yang diinisiasi oleh miliarder Bill Gates.

Toilet rancangan Gates membutuhkan dana sekitar 2.000 dollar AS dan lebih banyak dana lain untuk perawatan.

Hingga saat ini, konsep Warka Water sedang dicoba di beberapa daerah terisolasi lain di Haiti, Madagaskar, Kolombia, Brasil, India, Sumba, Kamerun, dan daerah lainnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Warka Water", Menara Pemanen Air dari Udara

Editor : Amel

Baca Lainnya