Berkolaborasi dengan Pengerajin, Pebisnis Furnitur Indonesia Masih Kelas 'Tukang Jahit'!

Jumat, 22 Februari 2019 | 21:00
latimes

Ruang keluarga di rumah Joe Jonas

IDEAonline -Ekspor produk kerajinan dan furnitur Indonesia pada 2018 mencapai 2 miliar dollar AS atau ekuivalen Rp 28,1 triliun.

Dilihat dari nilainya, potensi pengembangan produk ini pun dianggap cukup besar untuk menjangkau pasar luar negeri.

Baca Juga : Viral Satpam Atur Motor Sesuai Warna, Ternyata Ini Tampilan Rumahnya yang Tidak Kalah Rapi

Meski demikian, Ketua Indonesia Furniture Promotion Forum (IFPF) Erie Sasmito menilai, masih ada kelemahan yang dimiliki dari pengrajin kedua produk ini.

"Pelaku industri kita rata-rata UMKM, apalagi yang berorientasi ekspor, itu adalah tukang jahit," kata Erie menjawab pertanyaan Kompas.com, Kamis (21/2/2019).

Baca Juga : Terinspirasi dari Games, Dodit Mulyanto Miliki Rumah Mewah di Lereng Gunung Lengkap dengan Pacuan Kuda!

Tukang jahit yang dimaksud yakni mereka hanya menggarap produk-produk yang dipesan sesuai kriteria, kualitas, dan keinginan buyer.

Di lain pihak, hasil kerajinan otentik yang mereka miliki kurang berkembang.

Wakil Ketua Umum Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Pusat Dina Hartadi mengungkapkan hal senada.

Menurut dia, dengan potensi ekspor yang besar, seharusnya pengrajin Tanah Air memiliki hasil produk berbeda yang menjadi ciri khas mereka.

Baca Juga : Tak Hanya Jadi Penghias Rumah, Bunga Sepatu Terbukti Ampuh Obati Flu, Berani Coba?

"Memang benar ekspor furnitur kita ini lebih banyak sebagai penjahit ya, belum punya brand. Padahal dengan adanya brand itu bisa angkat nilai furnitur sendiri," kata Dina.

Untuk itu, sambung Dina, dengan berkolaborasi para pengrajin bisa menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan memiliki ciri khas tersendiri.

Baca Juga : Meski Istri Pejabat, Tak Sangka Dapur di Rumah Inggrid Kansil Ternyata Seberantakan Ini, Siap-siap Melongo!

Tak hanya dari aspek desain tetapi juga dalam pemilihan material yang akan digunakan.

"Mungkin nanti dengan masuknya HDII karena kita akan membawa komunitas desainer, nanti bisa kerja sama, menciptakan satu desain khusus yang mungkin bisa lebih menjual," tuntas Dina.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Pebisnis Furnitur Indonesia Masih Kelas "Tukang Jahit"

Editor : Amel

Baca Lainnya