Di Indonesia, Pembeli Incar Rumah Seharga Maksimal Rp 750 Juta. Apa Alasannya?

Sabtu, 03 Maret 2018 | 05:00
idea

Apartemen Mungil Makin Segar dengan Warna Satu Ini! Warna Apa Yah?

Ada fenomena menarik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir seiring melambatnya sektor properti dan juga daya beli pasar. Fenomena apa itu? Berlomba-lombanyak para raksasa properti menawarkan hunian ramah kantong. Bahkan, beberapa di antaranya "merayu" konsumen dengan skema pembayaran yang menggiurkan.

Skema pembayaran itu, entah tanpa uang muka atau down payment (DP), entah juga cicilan tanpa bunga selama periode tertentu. Yang jelas, penawaran-penawaran tersebut tak bikin kocek konsumen mendadak cekak. Ciputra Group, misalnya.

Naga bisnis yang kini dikendalikan Candra Ciputra ini membesut Citra Maja Raya dengan harga jual kurang dari Rp 200 juta. Kemudian Sinarmas Land yang juga beberapa kali melansir produk-produk apartemen seharga di bawah Rp 1 miliar di BSD City, Serpong, Tangerang Selatan.

Meme lucu tentang Meikarta.

Dan paling heboh, teranyar, serta menyita atensi publik adalah Lippo Group yang membombardir pasar dengan Meikarta. lagi-lagi dengan harga mencengangkan, yakni di bawah Rp 200 juta saat dilansir kali perdana tahun lalu.

Apa motivasi mereka merilis proyek-proyek murah ini? Tak lain dan tak bukan adalah menjaga bisnis dan industri properti tetap bergerak. Sebagai lokomotif perekonomian nasional, bisnis properti tidak boleh tiarap. Harus berjalan dengan inisiasi-inisiasi yang dapat menstimulasi kebangkitan pasar properti.

Sebagaimana dikatakan Chairman Lippo Group James Riady, para pemain besar properti tak bisa tinggal diam, harus bergerak membangkitkan sektor properti dari keterpurukan. "Sekarang saatnyalah kita memulai. Dan properti untuk kelas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) adalah stimulan paling efektif untuk menggairahkan sektor properti. Sebab, kebutuhan mereka masih tinggi, ada backlog jutaan unit," tutur James, November 2017 lalu.

BRANZ BSD Marketing Gallery
CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono mengamini pernyataan James. Menurut dia, properti yang diperuntukkan bagi kalangan menengah bawah adalah paling potensial terserap pasar. Bukan saja karena ceruk pasarnya yang merupakan terbesar, melainkan juga daya beli yang mulai pulih. "Selain itu, ada kalangan muda atau profesional muda yang tadinya indekos atau sewa hunian, sudah bisa membeli apartemen atau rumah. Mereka sanggup membayar DP dan mencicil angsuran," tutur Hendra, Kamis (1/3/2018).

Ada pun properti yang mereka incar, lanjut Hendra, maksimal sehraga Rp 750 juta. Properti seharga inilah yang paling dibidik atau laku di pasaran untuk tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Terbukti memang, rentang harga properti demikian mendapat antusiasme positif. Contohnya Apartemen Prajawangsa City di Cijantung, Jakarta Timur. Dari total tiga menara perdana sekitar 2.400 unit, hanya tersisa 22 persen.

Pengamat Harga di Serpong Sudah Over Value
"Harganya saat ini Rp 360 juta untuk unit terkecil," kata Property Investment Advisor Synthesis Development Asnedi. Demikian halnya Cimanggis City yang dibangun PT Permata Sakti Mandiri. Dengan tawaran harga maksimal Rp 400 juta, tak sulit buat pengembangnya meraup penjualan maksimal. "Hingga Januari 2018, dari penawaran 800 unit, telah terjual 330 unit," ujar Project Director Cimanggis City Sanggam Sitorus. Sebagai informasi, apartemen ini baru ditawarkan kepada publik pada Mei 2017. Meski butuh waktu 8 bulan untuk mencetak 40 persen serapan pasar, namun di tengah konstelasi bisnis yang belum ajeg, catatan tersebut lebih baik ketimbang nihil penjualan.

Terintegrasi transportasi massal Jones Lang LaSalle mencatat, hingga kuartal IV-2017 permintaan apartemen terbesar berasal dari kelas menengah ke bawah dari total tingkat serapan apartemen 63 persen dari 1.300 unit terjual. Karena itu, lazim jika sepanjang tahun 2017 dan tahun ini pengembang tetap aktif untuk meluncurkan proyek-proyek terbarunya yang ditujukan untuk kelas menengah ke bawah dengan konsentrasi proyek yang berada di area Jakarta Barat dan Timur.

Ilustrasi bagian dalam apartemen seluas 87 meter persegi.
"Selain itu, produk apartemen yang berdekatan dengan infrastruktur pendukung seperti light rail transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) akan menjadi nilai tambah dan daya tarik tersendiri bagi konsumen dalam menentukan pilihan," tutur Head of Residentail JLL Luke Rowe. (Hilda B. Alexander)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hunian Seharga Maksimal Rp 750 Juta Paling Diincar Pasar",

Editor : iDEA

Baca Lainnya