Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Begini Asal-usul Ruko dari Fujian ke Pecinan!

Rabu, 30 Januari 2019 | 12:00
Kompas.com

Heritage Terrace Houses adalah kompleks perumahan kuno peranakan Tionghoa yang dibangun sejak tahun 1920 di Koon Seng Road, Singapura, Selasa (6/2). Di sekitar lokasi ni, juga terdapat ruko-ruko peranakan yang terawat dengan baik dengan hiasan bungalow kolonial.

IDEAonline -Bangunan rumah toko atau ruko merupakan elemen penting bagi pedagang Tionghoa.

Bangunan khas yang dulu dibangun di kawasan permukiman ini dianggap tepat untuk menjalankan aktivitas komersial sekaligus sebagai tempat tinggal.

Fungsi ganda ini membuat ruko dianggap efektif.

Baca Juga : Permukiman Tionghoa Harus Membelakangi Bukit, Intip Filosofinya yang Tak Banyak Diketahui!

Ini karena pemilik ruko dapat mengawasi langsung barang dagangannya sekaligus mengurangi biaya transportasi karena tidak perlu pindah dari rumah.

Dosen Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Adrian Perkasa, menuturkan, jenis arsitektur ini dibawa masyarakat Tionghoa dari China Selatan atau tepatnya dari Provinsi Fujian.

Secara garis besar, bentuk ruko memiliki fungsi dan penggunaan ruangan yang hampir sama dengan rumah Tionghoa pada umumnya.

Baca Juga : Shezy Idris Bantah Perceraiannya karena Tak Tahan Diselingkuhi, Sang Ayah: Batin Saya Akhirnya Berontak!

Namun menurut Adrian, ada beberapa hal yang membedakan fungsi ruko dengan rumah Tionghoa pada umumnya.

Kawasan ruko biasanya dibangun berderet dan berada tepat di tepi jalan.

Deretan ruko bisa terkonsentrasi dalam satu kawasan dan membentuk blok, ataupun linier mengikuti suatu ruas jalan tertentu.

Karena berderet dan diapit dengan ruko tetangganya, jenis bangunan ini hanya memiliki satu fasad yakni pada bagian depan.

Baca Juga : Suaminya Dicap Hanya Numpang Makan Selama 7 Tahun, Shezy Idris: Saya Tiap Hari Urus Anak, Enggak Pernah Dugem

Adrian menyebutkan, konstruksi ruko di Indonesia hampir sama seperti di Malaka dan Georgetown.

Ruko biasanya dibangun di atas sebidang tanah dengan ukuran tertentu.

Di beberapa tempat lantai pertama ruko dimundurkan sedangkan lantai kedua dibangun lebih lebar yang berfungsi sebagai peneduh.

"Denahnya biasanya berbentuk persegi panjang tapi tidak punya gerbang seperti pada rumah," ujar Adrian kepada Kompas.com, Selasa (29/1/2019).

Baca Juga : Tangis Shezy Idris Pecah Saat Sidang, Garasi Bak Museum Miliknya Tinggal Kenangan

Berbeda dengan ruko yang sering ditemui saat ini, pola ruang pada bangunan ruko pecinan awal masih memiliki ruang hunian di lantai dasar.

Ruang tamu pada ruko juga berfungsi ganda sebagai toko atau workshop.

Di belakang toko atau tempat berdagang ini terdapat ruang tidur atau ruang istirahat.

Namuan ruangan ini tidak menempel melainkan dirancang dengan sekat berupa lorong.

Baca Juga : Garasi Unik Bak Museum, Begini Rumah Shezy Idris yang Jarang Tereskpos

"Kalau dia punya altar, altar akan diletakkan di antara kamar tidur dan ruang tamu," tutur Adrian. Setelah itu beberapa ruangan seperti ruang keluarga, ruang makan, kamar mandi hingga sumur berada di lantai satu.

Adrian menyebutkan, di lantai dua pada pola ruang ruko awal ini hanya berisi kamar tidur.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Asal-usul Ruko, Dari Fujian Hingga Ke Pecinan

Editor : Amel

Baca Lainnya