Gempa Guncang Sukabumi hingga Terasa ke Jakarta, Intip Hunian Tahan Gempa Khas Indonesia yang Kini Jadi Sorotan

Selasa, 10 Maret 2020 | 18:08
twitter

Jakarta Kembali Diguncang Gempa Magnitude 5, Lakukan 3 Cara Ini untuk Selamatkan Diri

IDEAonline - Gempa bermagnitudo 5,0 mengguncang Sukabumi, Jawa Barat pada Selasa (10/3/2020) pukul 17.18 WIB.

Kepala Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Akhmad Taufan Maulana mengatakan, gempa tersebut berkedalaman 10 kilometer.

Pusat gempa berlokasi di 6.89 LS dan 106.62 BT.

Baca Juga: Berperan Estetis dan Edukatif, Jangan Salah Memilih Lampu Kamar Anak

Baca Juga: Tips Hadirkan Ruang Kerja yang Nyaman dan Menambah Produktif!

"Gempa tidak berpotensi tsunami," kata Taufan kepada Kompas.com, Selasa (10/3/2020) sore.

Taufan menambahkan, lokasi gempa berada di 13 km Timur Laut Kabupaten Sukabumi,34 km Barat Laut Kota Sukabumi,38 km Barat Daya Kota Bogor,83 km Barat Daya Jakarta, dan 100 km Tenggara Serang, Banten.

Sejauh ini belum ada gempa susulan yang terjadi.

Rumah TahanGempa

Leluhur kita ternyata tidak hanya mewariskan budaya atau adat istiadat, namun juga sistem konstruksi.

Salah satunya adalah fondasi umpak.

Baca Juga: Jakarta Kembali Diguncang Gempa Magnitude 5, Lakukan 3 Cara Ini untuk Selamatkan Diri

Baca Juga: Terjangkit Virus Corona, Kepala Staf Angkatan Darat Italia yang Kesehariannya Berkeliaran Jaga Kemanan Kini Terpaksa Dirumahkan, Terkuak Kasus Lainnya!

Walau kuno, sistem fondasi umpak memiliki nilai estetis dan mampu meminimalisasi efek guncangan akibat gempa bumi.

Sebuah solusi yang menjawab seringnya bumi ini “bergoyang tanpa dendang.”

Selain namanya yang unik, fondasi umpak merupakan kearifan lokal yang memiliki kekhasan tersendiri dalam sebuah bangunan tradisional.

Pakar konstruksi dan pengajar jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia Dr. Ir. Yuskar Lase menjelaskan bahwa sistem fondasi umpak memberikan fleksibilitas pada bangunan.

Fondasi ini tidak ditanam seperti kebanyakan bentuk fondasi lain, jadi tiang berdiri di atas tanah yang ditambahkan batu-batu.

“Sehingga meminimalisasi getaran gempa, namun konsekuensinya adalah bangunan bergeser sekitar 10cm-an,” ujarnya.

Semakin fleksibel bangunan maka semakin kecil getaran akibat guncangan gempa yang terjadi.

Hal inilah yang membuat bangunan dengan sistem fondasi umpak mampu bertahan dari guncangan gempa, karena fondasi ini bersifat “melenturkan” bangunan.

Hal yang tidak kita sadari, banyak kearifan lokal, yang walaupun terkesan kuno, dapat diaplikasikan di masa kini.

booking.com

The Royal Joglo

Bahkan efektivitasnya dapat diukur dengan ilmu-ilmu modern.

Secara prinsip, fondasi umpak bisa diterapkan di tempat lain di luar Indonesia.

Jepang adalah salah satu negara yang juga menggunakan fondasi umpak dengan desain tersendiri.

Selain itu, ada juga teknologisliding isolatormerupakan pengembangan teknologi yang secara prinsip sama dengan prinsip umpak.

Sumber: indonetwork.co.id

Rumah semi modern dengan fondasi umpak.

Selain harus bisa menahan guncangan gempa, konstruksi juga memiliki fungsi estetika.

Baca Juga: Berperan Estetis dan Edukatif, Jangan Salah Memilih Lampu Kamar Anak

Baca Juga: Jakarta Kembali Diguncang Gempa Magnitude 5, Lakukan 3 Cara Ini untuk Selamatkan Diri

Maka dijelaskan Yuskar Lase, ciri dari sistem umpak untuk ketahanan gempa adalah tiang fondasi yang terdiri dari balok-balok besar dan diberikan pengikat antarkolom secara menyilang (bracing).

Bentuk ini bisa dilihat pada rumah adat Nias.

Sekarang ini, sejumlah orang atau pengembang mencoba mendesain rumah dengan mengawinkan konsep tradisional menggunakan fondasi ini.

Selain untuk menjaga kearifan lokal, penerapan fondasi tradisional ini juga menjadi kebutuhan akan keamanan, terlebih untuk daerah yang rawan gempa.

Fondasi umpak bisa dikatakan merupakan warisan yang kaya akan nilai,sebuah produk analisa berupa sistem fondasi yang menyelaraskan bangunan dengan kondisi alam.

Karena fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini mengajak kita untuk “akrab” dengan alam, seperti halnya orang-orang terdahulu.

(*)

Berbagi IDEA

Editor : Maulina Kadiranti

Baca Lainnya