Pilih Investasi Rumah atau Lahan? Simak Plus Minusnya di Sini!

Selasa, 14 April 2020 | 13:00
businessinsider

Investasi rumah atau tanah masing-masing ada plus minusnya.

IDEAOnline-Dari sekian banyak pilihan, mau investasi yang mana? Mending beli tanah atau rumah? Harus dipikirkan dengan cermat!

Pilih beli rumah atau lahan kosong? Jika investasi rumah yang kita pilih, rumah seperti apa yang harus kita beli, rumah baru atau rumah seken?

Jika berminat pada lahan kosong, kriteria apa yang kita pakai dan mesti dibiarkan kosong atau didirikan bangunan?

Setiap orang pasti mengharapkan tingkat pengembalian (return).

Namun faktanya, return dapat menjadi positif alias untung atau kemungkinan menjadi negatif alias rugi.

Berikut beberapa gambaran yang bisa menjadi bekal sebelum Idea Lovers memutuskan membeli rumah atau lahan untuk berinvestasi.

Baca Juga: Berbagi IDEA Tips Kewaspadaan agar Tak Menyesal Membeli Rumah Lelang

Membeli tanah, biaya perawatan relatif rendah.

Dikutip dari buku Taufik Gumulya, CFP, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services, berikut plus minus berinvestasi rumah maupun lahan/tanah.

Investasi Tanah

  • Return yang cukup besar, ini bisa didapat dari data rata-rata kenaikan tanah (di sekitar Jakarta) dalam hal ini Cibubur, Depok dan Serpong per tahun dalam kisaran 15% s/d 30% tentu tergantung lokasi dan infrastruktur di sekitarnya.
  • Biaya perwatan relatif sangat rendah.
  • Tidak perlu diasuransi, relatif aman karena tidak bisa terbakar.
  • Sulit untuk mendapatkan income tambahan dlm bentuk sewa, dll.
  • Lebih sulit dijadikan jaminan utang di Bank jika dibandingkan dengan rumah.
  • Semakin luas, semakin tidak likuid karena sulit mencari pembeli yang memiliki banyak uang.
Baca Juga: Berbagi IDEA Tips Aman Saat Membeli Rumah Secara Oper Kredit

Lokasi Green Garden, Jakarta Barat Arsitek Cosmas D. Gozali

Rumah lebh mudah dijadikan jaminan bank.

Investasi Rumah

  • Return yang sedang, namun tetap menjanjikan. Meskipun harga permeter persegi lebih mahal sekitar + 5% hingga 10% dari harga tanah, namun kenaikan harga per tahun masih di bawah kenaikan harga tanah. Kenaikan harga berada dalam kisaran 10% hingga 25%.
  • Lebih likuid dari pada tanah karena mayoritas orang lebih suka membeli rumah dari pada membeli tanah.
  • Lebih mudah untuk dijadikan jaminan utang di Bank.
  • Kemungkinan mendapatkan income tambahan sedang karena bisa disewakan.
  • Nilai ekonomis bangunan terus menyusut setiap tahunnya, biasanya sebesar 10 persen penyusutan pertahun.
  • Dengan adanya bangunan maka pembayaran Pajak (PBB) menjadi lebih mahal jika dibanding dengan tanah.
  • Perlu diasuransikan terhadap kemungkinan kebakaran.
Baca Juga: Membeli Rumah Tanpa IMB yang Benar, Apa Risiko dan Solusinya?

(*)

Editor : Akhmad Juanda