Tren Kasus Malaria Meningkat, Ibu Hamil dan Balita Perlu Waspada

Kamis, 24 September 2020 | 12:30
Kompas.com

Ilustrasi nyamuk Anopheles, penyebab penyakit malaria.

IDEAOnline-Tren kasus penyakit malaria di Indonesia terus meningkat di tengah pandemi Covid-19, dan hal ini mengkhawatirkan kelompok rentan terutama ibu hamil dan balita.

Berdasarkan data tren kasus positif malaria dan jumlah penderita malaria (Annual Parasite Incidence/API), tercatat bahwa keseluruhan kasus malarian tahun 2019 di Indonesia sebanyak 250.644 kasus.

Kasus malaria pada ibu hamil tahun 2019, paling tinggi terdapat di Provinsi Papua yaitu sekitar 1.769 kasus.

Namun, secara umum dari proporsi keseluruhan kasus positif malaria, kasus pada ibu hamil adalah sekitar 0,5 persen.

Direktur P2PTular Vektordan Zoonotik Kementerian Kesehatan Dr Siti Nadia Tarmizi MEpid mengatakan bahwa malaria termasuk penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB), sehingga layanan malaria tetap harus dilaksanakan dalam situasi pandemi Covid-19.

Nadia mengakui bahwa di awal pandemi Covid-19 di Indonesia, sebagian besar bahkan seluruh kegiatan program terhenti karena berada dalam penyesuaian dengan adanya atau munculnya penyakit baru ini.

"Saat ini, sejak Juli, program sudah mulai dibangkitkan kembali untuk memberikan pelayanan," kata Nadia.

Begitupun, persoalan malaria terhadap ibu hamil juga dianggap merupakan masalah kesehatan yang serius dan KLB jika tidak ditangani dengan baik.

Malaria pada ibu hamil menjadi masalah serius karena dapat menyebabkan berbagai masalah seperti berikut: anemia, bayi lahir prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), kematian Ibu dan bayi.

Baca Juga: Cara-cara Sederhana Mencegah Penularan Penyakit oleh Nyamuk di Rumah

Kompas.com
SHUTTERSTOCK/Jarun Ontakrai

Ilustrasi

Sementara, risiko malaria pada ibu hamil dalam jangka panjang yaitu masalah pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak akibat lahir prematur dan BBLR.

Pada tahun 2019 dari seluruh kasus malaria di Indonesia, 39 persen terjadi pada anak usia di bawah 15 tahun yaitu sekitar 96.659 kasus, sebanyak 14 persen atau 36.293 kasus terjadi pada balita, termasuk 3.858 kasus atau sekitar 2 persennya adalah bayi.

Terkait kasus malaria pada ibu hamil, Kementerian Kesehatan melakukan penelitian di Kabupaten Mimika, Papua sebagai salah satu daerah endemis malaria.

Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa infeksi pada ibu hamil menyebabkan anemia berat pada ibu dan penurunan berat lahir janin.

Sedangkan, infeksi malaria pada bayi merupakan penyebab utama anemia berat dan bersama dengan kecacingan.

Ironisnya, cacingan dan anemi ini bisa menjadi penyebab utama stunting yang terjadi di daerah endemis malaria.

Berdasarkan data tahun 2019 sebanyak 58 persen yaitu 92 dari 160 kabupaten/kota prioritas stunting merupakan daerah endemis malaria.

Integrasi Program Malaria dengan Kesehatan Ibu dan Balita

Dikarenakan kasus malaria ini berisiko tinggi, Nadia berkata, integrasi program malaria dengan kesehatan ibu dan balita juga telah dihimpun berdasarkan situasi terkini masus malaria dan stunting di Indonesia.

Oleh sebab itu, kegiatan integrasi dilaksanakan melalui penapisan atau skrining malaria dan pemberian kelambu anti nyamuk terhadap ibu hamil.

Pemberian kelambu anti nyamuk ini juga dilaksanakan pada saat kunjungan pertama pelayanan masa kehamilan.

"Untuk pembagian kelambu masal tentu diatur dengan memperhatikan protokol pencegahan Covid-19, artinya tidak bergerombool dan kalaupun berkumpul dibatasi jumlahnya dan daitur waktunya dan tikak lebih dari 5-10 orang perhari," jelasnya.

Baca Juga: Temuan Ahli di Italia Ini Bisa Bikin Nyamuk Malas Gigit Manusia

Kompas.com
SHUTTERSTOCK/SOMBOON BUNPROY via Kompas.com

Ilustrasi nyamuk Anopheles, penyebab penyakit malaria.

Tidak hanya itu, juga dilakukan pemeriksaan sediaan darah malaria terhadap balita yang sakit.

Untuk diketahui, kegiatan integrasi diutamakan dilaksanakan di kabupaten/kota yang termasuk kategori endemis tinggi dan dilaksanakan secara selektif di daerah kategori endemis sedang, rendah dan eliminasi (bebas) dari malaria.

Data skrining malaria terhadap ibu hamil dan balita pada tahun 2019 tercatat ada sebanyak 377.392 ibu hamil dan 44.158 bali yang sakit telah diskrining malaria.

Skrining ibu hamil terbanyak dilaksanakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu 71.855 ibu hamil.

Sementara, untuk skrining balita sakit terbanyak dari Provinsi Papua yaitu sebanyak 20.440 balita.

Sedangkan, di tengah pandemi ini skrining tambahan yaitu skrining Covid-19 juga akan diberlakukan sterhadap pasien yang berada di daerah endemis malaria, sebelum diberikan penanganan komprehensif malaria.

Skrining untuk Covid-19 ini diberlakukan bagi pasien yang memiliki gejala dan pasien tanpa gejala. Artikel ini telah tayang di Kompas.comdengan judul Tren Kasus Malaria Meningkat, Ibu Hamil dan Balita Perlu Waspada

#berbagiIDEA

Editor : Maulina Kadiranti

Sumber : kompas