Diskusi diharapkan dapat membantu konsumen dan masyarakat luas agar lebih memahami bagaimana memanfaatan sinar UV-C secara efektif untuk membunuh mikroorganisme dan membangun kesadaran terhadap pentingnya memperhatikan aspek keselamatan dalam penggunaannya.
Hermawan menyebutkan, sinar Ultraviolet-C (UV-C) kini semakin banyak digunakan sebagai salah satu pilihan disinfeksi ini berbeda dengan dua jenis sinar ultraviolet yang sudah kita kenal selama ini, yaitu UV-A dan UV-B.
Sinar UV-V tidak seperti UV-A dan UV-B yang bisa dimanfaatkan secara langsung melalui sinar matahari dengan berjemur.
Sinar UV-C tertahan di awan atau lapisan ozon karena sifat gelombangnya pendek (kurang dari 280 nm).
Meski tingkat energinya tinggi tapi rantai (perjalanannya) pendek sehingga tak bisa menembus permukaan bumi.
Oleh karena itu, dalam pemanfaatan sinar UV-C diperlukan rekayasa teknologi.
Dr. Hermawan menyebutkan teknologi UV-C ini sangat diperlukan di area-area publik seperti pusat perbelanjaan, hotel, kantor, sekolah, tempat ibadah, bandara, dan lainnya.
Baca Juga: Kloset Pintar Bakal Dicari di Masa dan Pasca Pandemi, Ini Kriterianya
Hindari Paparan Langsung
Terkait dengan sinar UV-C, Dr. rer. nat. Ir. Aulia Nasution, M.Sc., Kepala Laboratorium Rekayasa Fotonika, Departemen Teknik Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyebutkan bahwa, sinar UV-C, yang berada dalam spektrum cahaya tak kasat mata, memiliki potensi untuk mengatasi penyebaran COVID-19.
Namun,ia memperingatkan bahayanya apabila sinar UV-C mengenai tubuh manusia secara langsung.